Senin, 03 Oktober 2011

Kisah Mahasiswi : Aku Harus Segera Lulus!


Dipandangi tumpukan kertas yang tersusun rapi di sudut kamar kos berukuran 3x4 m itu. apa yang dilakukan, semakin membuatnya sakit hati. Skripsinya nggak kelar-kelar.
“Kalo begini caranya, kapan aku bisa lulus?”
“Kapan aku kerja?”
“Kapan aku nikah?”
“Kapan aku,,,,kapan aku,,,,” Geram Ninit sembari mengepalkan tangan, kemudian dihantamnya tembok yang tak jauh dari tempat duduknya.
“Aduuuh”!!! Ninit meringis mau menahan sakit.
“Ah, aku tidak boleh patah semangat meski harus bolak-balik ditolak pembimbing. Besok pagi harus menghadap lagi, pokoknya nggak boleh mundur. Maju terus pantang mundur!”Teriaknya bersemangat, ada segenggam kepercayaan bahwa dirinya pasti bisa melalui masa-masa sulit tersebut.
Keeseokan harinya......

Dengan Semangat 45 Ninit meyakinkan diri untuk maju lagi ke pembimbing. Diaturnya nafas untuk menghilangkan ketegangan sebelum ketemu sang dosen yang terkenal super Killer itu. sehari semalam dia juga sudah mempersiapkan belajar untuk menghadapi ‘serangan maut’ dan cecaran sang dosen. Aku pasti bisa! Ujarnya sembari melangkah pasti menemui dosen.
“Apa ini, tulisan kok kayak gini! Banyak yang salah ini! Sudah kamu belajar lagi memperkuat teori! Seminggu lagi setelah kamu perbaiki, kembali menghadap saya, ya? Gelegar suara sang dosen membuat nyalinya keder. Dengan tangan gemetar ia mengambil kembali berkas-berkas yang dihadapannya.
Ninit kembali ke kos dengan perasaan sebel, mangkel, jutek, bete saking seringnya ditolak sang pembimbing. Bayangkan sudah 15 kali maju bab 3 belum di acc juga. Sebel! Awas kamu, Pak!
Hari selanjutnya Ninit tampak loyo, patah semangat, tidak bergairah, dan kehilangan motivasi. Hidupnya jadi ‘brekele’, bawaannya murung.
Belum lagi kalo ditanyain ortu, “Kapan lulusnya nih, masak kuliah sudah 6 tahun lebih belum lulus juga? Tetangga sebelah yang sepantaranmu aja sudah punya anak satu. Wisudanya kapan, Nit?”
Berabe deh kalo ditanyain seputar itu!
Ninit jadi sangat sensi. Kenapa nggak pada mau tahu bagaimana perasaannya. Huh, sebel nggak ada yang mo diajak kompromi, betul-betul bikin stres kesana kemari ditanyain itu melulu!
Ninit merasa sudah berusaha semaksimal mungkin sampai-sampai kepalanya pusing. Bahkan akhir-akhir ini rambutnya rontok saking stresnya pikiran. Ninit mengakui dosennyalah yang terlalu mempersulit.
“Brengseeeekkk!!!! Brengsek lo, Pak Dosen! Aku tidak dilulus-lulusin, emang salahku apa! Awas, kudoakan kau kecelakaan, biar tahu rasa lo!” teriak Ninit histeris sembari memukul-mukul tembok. Baginya sang dosen sangat menyebalkan. Orang-orang yang sering ngeledekin dia juga sangat menyebalkan.
Hm...berawal dari situlah Ninit jadi ogah-ogahan. Nggak semangat lagi mengerjakan apa-apa. Sering marah. Bahkan yang paling parah, dia jadi pemalas dan kehilangan motivasi. Kerjanya molor melulu, untuk mikir sudah jauuuuh...! Dia merasa hidupnya terpuruk, hancur berkeping-keping. Dia merasa jadi orang paling sengsara sedunia. Dia juga merasa nggak bisa berbuat apa-apa. Ninit pun jadi introver, pendiam dan menarik diri dari pergaulan.
Dari kisah diatas, maka bisa diambil pelajaran bahwa tetap berjuang atau menyerah adalah pilihan. Kedua hal itu bukanlah takdir ataupun nasib, Ninit bisa lulus jika dia segera membuang prasangka buruknya dan berhenti menyalahkan orang lain atas kelalaian yang dilakukannya. Menjadi pintar, bodoh, kaya atau miskin. Semua itu adalah pilihan kita sendiri, hal-hal tersebut adalah bentuk dari tindakan yang kita lakukan. Jika kita rajin belajar, maka keberhasilanlah yang akan kita raih. Tapi, jika kita bermalas-malasan, maka hambatan demi hambatan yang akan menemani kita setiap harinya. Jadi untuk para pembaca silahkan anda memilih, mana yang ingin anda jalani....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar