Kamis, 05 Mei 2011

Brainstorming

Osborn (1957 dalam Taylor, Peplau, dan Sears, 1009) mengemukakakn bahwa kelompok akan lebih baik ketimbang individual dalam menciptakan ide atau solusi. Begitu juga di dalam pengambilan keputusan, kelompok perlu menimbulkan ide-ide kreatif sehingga muncul solusi yang baik. Teknik khusus yang dikembangkan Osborn ini dinamakan Brainstroming.
Brainstorming adalah proses di mana kelompok sebanyak mungkin, sebisa mungkin, dan secepat mungkin menghasilkna ide-ide; mengemukakanapa adanya ide yang muncul dalam pikiran, dan tidak perlu menilai benar atau salahnya. Aturan Brainstorming, seperti dijelaskan oleh Osborn, antara lain :
·         Mengesampingkan kritik, evaluasi negatif harus disimpan terlebih dahulu
·         Bebas mengemukakansaran, semakin liar idenya, semakin baik; akan lebih mudah ‘menjinakkan’ ide daripada menciptakan ide;
·         Mengharapkan kuantitas, semakin banyak ide, semakin besar kemungkinan diterima; dan
·         Melakukan kombinasi dan perbaikan, selain memberi saran ide, anda juga harus mengusulkan cara agar ide orang lain dapat diubah menjadi lebih baik atau cara memadukan dua atau tiga tipe, (Taylor, Peplau, dan Sears, 2009, hal. 384)
Namun, meskipun penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang diinstruksikan melakukan brainstorming terbukti menghasilkan lebih banyak gagasan daripada kelompok yang tidak melakukan brainstorming, tidak ada bukti bahwa individu di dalam kelompok yang diberikan brainstorming lebih kreatif daripada kelompok yang tidak diberikan brainstorming (?Diehl dan Stroebe, 1987; Mullen et al., 1991; Stroebe dan Diehl, 1994 dalam hogg dan Vaughan, 2002).
Bahkan penelitian yang dilakukan oleh Paulus, Larey, dan Dzindolet (2001 dalam Taylor, Peplau, dan Sears, 2009) menunjukkan bahwa lima individu, yang bekerja sendiri-sendiri, memproduksi solusi dan ide unik hampir dua kali lipat lebih banyak daripada kelompok. Secara umum, individu menghasilkan lebih banyak ide apabila bekerja sendirian daripada saat bekerja dalam kelompok brainstorming.
Brainstorming di dalam kelompok dapat menjadi tidak optimal karena faktor-faktor berikut.
·         Evaluation apprehension. Meskipun telah ecara eksplisit diberikan instruksi untuk menghasilkan sebanyak mungkin ide, namun menampilkan kesan yang baik masih tetap menjadi perhatian. Penjagaan kesan baik ini mengarahkan para anggota pada self-cencorship dan berkurangnya produktivitas.
·         Social loafing dan free riding. Adanya demotivasi di dalam kelompok karena merasa idenya telah diwakili oleh anggota lain atau merasa ada ide yang kebih baik daripada dirinya. Karakter ini cenderung alamiah di dalam kelompok.
·         Production matching. Anggota kelompok menggunakan kinerja rata-rata jelompok untuk menentukan norma kinerja yang mengarahkan pengemukaan ide-ide.
·         Production blocking. Kreatifitas dan produktifitas berkurang karena orang lain mengemukakan ide-ide yang sama pada saat yang bersamaan.
Dalam mengupayakan faktor-faktor yang mendukung kreatifitas dan mengurangi keadaan yang tidak optimal, Stroebe dan Diehl (1994 dala hogg dan Vaughan,2002) memberikan dua solusi yang sekiranya dapat memberikan efektifitas di dalam menghasilkan ide-ide.
Pertama, electronic brainstorming. Kelompok melakukan brainstorming melalui alat elektronik seperti komputer dapat dapat menghasilkan lebih banyak ide-ide (Gallupe et al, 1994 dalam hogg dan vaughan, 2002). Kedua, kelompok heterogenous. Anggota yang terdiri dari beragam jenis pengetahuan tentang topik brainstorming dapat menciptakan lingkungan yang menstimulasi, khususnya dalam mengurangi efek dari kemandekan produksi. Kemandekan produksi ini dapat berkurang melalui cara lain.
Dikutip dari Buku Psikologi Sosial, Penyunting Sarlito Wirawan dan Eko A Meinarno, Penerbit Salemba Humanika.

1 komentar:

  1. wahHh wahHH muantep nh postinganNNnya...,oiya ganNN skali2 kasih info psikologi agr qta bsa nguasai kls dlm proses bljar mngajar...,krugian proses bljar klompok psti ada ganNN ????p d pikir2 emang lbh baik bnyk drpd sdkit...

    BalasHapus