Minggu, 29 Mei 2011

Bukan Dari Mana Berasal, Tapi Dimana Berakhir.......

Hari ini saya ingin berbagi sebuah kisah yang menurut saya sangat menginspirasi, dari sebuah kumpulan cerita Di Atas Sajadah Cinta karya Pak Lek Habiburrahman...hehe, Semoga sahabat yang membacanya dapat mengambil sebuah pelajaran dari kisah yang akan saya sajikan ini..
Kisah ini berjudul Ketika Masjid dan Rumah Bordil Roboh...
Ada dua lelaki, keduanya adalah saudara kandung. Lahir dalam keluarga yang taat beragama, namun perilaku kedua orang tersebut berbeda dan akhir hidup mereka juga berbeda.
Yang tua, sejak kecil dikenal baik, alim dan ahli ibadah. Ia tidak suka menyakiti orang lain. Tidak suka hura-hura, tak pernah menyentuh gelas minuman keras apalagi meminumnya. Waktu mudanya banyak dihabiskan di masjid, ia juga tidak suka bergaul dengan wanita yang bukan mahramnya. Pernah ia dirayu seorang gadis cantik yang masih sepupunya, namun ia teguh dalam keimanannya. Karena amal perbuatannya yang baik dan akhlaknya yang mulia ia dicintai oleh keluarga dan masyarakat.

Sedangkan adiknya, sangat berbeda dengan kakaknya. Sejak kecil dikenal nakal, sejak remaja sudah biasa masuk tempat maksiat. Rumah bordil adalah tempat biasa ia mangkal, hampir tiap hari ia mabuk dan melakukan berbagai macam maksiat di rumah bordil miliknya itu. kadang-kadang ia juga ikut gerombolan perampok untuk merampas harta orang lain. Saat merampok ia bahkan terkadang juga melakukan pemerkosaan. Hampir segala jenis maksiat dan perbuatan yang menjijikkan telah ia lakukan untuk memuaskan hawa nafsunya. Perbuatan jahatnya itu membuat dirinya dibenci oleh keluarga dan masyarakat.
Suatu ketika, sang kakak yang alim dan ahli ibadah merenung dalam kesendiriannya. Tiba-tiba dengan halus sekali nafsunya berkata padanya,
“Sejak kecil kau selalu berbuat kebaikan dan beribadah, kau telah mendapat tempat di hati masyarakat dan dikenal sebagai orang baik. Namun kau tidak pernah merasakan nikmatnya hidup sedikit pun. Kenapa tidak sesekali kau datang ke tempat adikmu menghibur diri di rumah bordilnya. Sesekali saja, setelah itu kau bisa bertaubat. Kau bisa membaca istighfar ribuan kali dalam shalat tahajjud. Bukankah Allah itu maha Pengampun?”
Bujukan hawa nafsunya itu ternyata masuk dalam pikirannya. Setan pun dengan sangat halus masuk melalui pori-pori dan aliran darah. Ia berkata pada diri sendiri,
“benar juga, kenapa aku tidak sesekali menghibur diri? Hidup Cuma sekali. Nanti malam aku mau menari dan bersenang-senang bersama wanita cantik di rumah bordil adikku. Setelah itu aku pulang dan bertaubat kepada Allah SWT, Dia Maha Pengasih lagi Maha Pengampun.”
Sementara itu di rumah bordil, adiknya juga merenung. Ia merasa jenuh dengan hidup yang dijalaninya. Nuraninya berkata,
“Sudah bertahun-tahun aku hidup bergelimang dosa. Bermacam maksiat telah aku lakukan. Apakah aku akan hidup begini terus? Keluarga membenciku karena perbuatanku, juga masyarakat, mereka memusuhiku karena kejahatanku. Kenapa aku tidak mencoba hidup baik-baik seperti kakak. Ah, bagaimanakah besok kalau telah mati. Bagaimana aku mempertanggungjawabkan perbuatanku. Kalau begini terus, kelak aku akan masuk neraka. Hidup susah di akhirat sana, sementara kakakku akan hidup nikmat di surga. Tidak!aku tidak boleh hidup dalam lembah maksiat terus. Aku harus mencoba hidup di jalan yang lurus, nanti malam habis maghrib aku akan ke masjid tempat kakak beribadah. Aku mau tobat dan ikut shalat, aku mau kembali ke pangkuan Allah Swt. Aku mau beribadah sepanjang sisa hidupku, semoga saja Allah mau mengampuni dosa-dosaku yang telah lalu.”
Dan benarlah, ketika malam datang  kedua saudara itu melaksnakan niatnya masing-masing. Usai shalat maghrib di masjid, sang kakak ke rumah, ganti pakaian dan bergegas menuju rumah bordil. Adapun sang adik, telah pergi meninggalkan rumah bordil begitu mendengar suara azan maghrib, jalan yang diambil dua bersaudara itu tidak sama sehingga keduanya tidak berjumpa di tengah jalan.
Sampai di rumah bordil sang kakak mencari adiknya, namun tidak ada. Orang-orang yang ada di rumah bordil tidak ada yang tahu ke mana adiknya itu pergi. Meskipun adiknya tidak ada ia tetap melaksanakan niatnya. Nafsu telah menguasai seluruh akal pikirannya. Ia pun menuruti segala yang diinginkan nafsunya di rumah bordil itu bersama para penari dan pelacur.
Di tempat lain, sang adik sampai di masjid tempat kakanya biasa ibadah. Ia sudah bertekad bulat untuk tobat meninggalkan semua perbuatan butuknya. Ia mengambil air wudhu dan masuk ke dalam masjid. Ia mencari-cari kakaknya, ternyata tidak ada. Padahal biasanya kakaknya selalu beriktikaf di masjid, namun ia tidak tahu ke mana perginya. Meskipun tidak ada kakaknya, niatnya telah bulat. Ia melakukan shalat dan beristighfar sebanyak-banyaknya dengan mata bercucuran air mata.
Tiba-tiba bumi berguncang dengan hebatnya.
“Awas ada sule,,,hehe (Bercanda, di bukunya nggak ada kata-kata itu kok). Awas ada gempa! Ada gempa!” teriak orang-orang di jalan.
Orang-orang panik keluar dari rumah untuk menyelamatkan diri. Takut kalau-kalau rumah mereka runtuh. Sang adik yang sedang larut dalam kenikmatan tobatnya tidak beranjak dari dalam masjid, ia tidak merasakan ada gempa. Demikian juga sang kakak yang saat itu sedang terlena di rumah bordil. Ia sama sekali tidak merasakan gempa. Goncangan gempa itu cukup keras, beberapa bangunan roboh. Termasuk masjid dan rumah bordil.
Keesokan harinya, sang kakak ditemukan tewas di antara reruntuhan rumah bordil di samping mayat seorang penari wanita dalam keadaan yang memalukan. Sedangkan sang adik juga ditemukan tewas di antara reruntuhan masjid. Kedua tangannya mendekap sebuah mushaf (Kitab) di dada.
Masyarakat yang tahu ihwal kedua kakak beradik itu meneteskan air mata. Mereka tidak habis pikir, orang yang selama ini dikenal ahli ibadah kok bisa tewas dengan cara yang sedemikian tragisnya. Sedangkan adiknya yang selama ini dikenal ahli maksiat kok bisa husnul khatimah (Meninggal dengan keadaan yang baik). Dengan peristiwa ini orang-orang diberi pelajaran yang sangat berharga, bahwa kematian bisa datang kapan saja. Hanya Allah yang tahu, maka jangan sekali-kali iseng menuruti hawa nafsu. Siapa tahu saat sedang menuruti hawa nafsu itulah maut menjemput.
Sahabat sekalian, seperti apapun keadaan kita dalam keadaan yang baik ataupun yang buruk sekalipun. Jangan sekali-kali membanggakan ataupun merendahkan diri ini, karena seperti sebuah kata mutiara yang selalu berlaku dalam kehidupan, bahwa roda itu berputar. Saat seseorang sedang berada di atas, maka ia dapat di jatuhkan sedemikian cepatnya ke dasar roda dan mencium lumpur. Sebaliknya, mereka yang berada di bawah dapat diangkat dari lumpur kehidupan dan menjadi yang teratas...
Sahabat, tetaplah lakukan usaha terbaik sahabat. Jika sekarang sahabat sedang merasa di bawah, jangan rendah diri, berusahalah semampu sahabat agar keadaan berubah menjadi lebih baik. Sebaliknya bagi sahabat yang sekarang sedang merasa ada di atas dengan segala kemudahan dan kenyamanan, tetaplah usahakan yang terbaik agar bisa mempertahankan apa yang telah sahabat sekalian capai....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar