Selasa, 26 April 2011

Eksistensi Tuhan...?

Sebenarnya disini penulis juga belum mendapatkan jawaban yang pasti tentang pertanyaan diatas, akan tetapi saya akan mencoba berbagi pada sahabat semua. Dengan harapan, sahabat juga bisa berbagi dengan penulis, hal ini agar kita semua bersama-sama dalam belajar dan bersama-sama untuk maju.
Tuhan, banyak yang ragu tentang keberadaan-Nya. Banyak yang tidak mengakui-Nya dan banyak juga yang tidak pernah mengenal-Nya. Tentunya dengan berbagai alasan yang bisa diterima oleh akal tapi juga tidak mampu dibuktikan secara akal.
Saat seseorang ingin membuktikan Tuhan, kebanyakan dari mereka merefleksikannya sebagai Pribadi yang berwujud. Jadi sesuatu yang di bilang Tuhan haruslah berwujud dan dapat dilihat oleh mata telanjang. Banyak orang yang akan mempercayai akan keberadaan Tuhan, jika Tuhan itu mau menunjukkan wujudnya didepan mata mereka, barulah mereka akan percaya.
Akan tetapi, menurut saya bagaimana Tuhan akan dilihat?apakah Tuhan itu mahluk yang setara dengan manusia?bukankah sesuatu yang bisa dibilang Tuhan adalah dia yang memiliki superioritas diatas semua mahluk yang pernah Dia ciptakan.
Kita sebagai manusia, ingin melihat seperti apa Tuhan baru mempercayai-Nya. Akan tetapi yang paling sederhana saja mungkin kita tidak akan pernah bisa mengetahuinya, jangankan Tuhan. Apakah kita bisa melihat seperti apa bentuk dari rasa dingin yang kita alami? Atau saat kita sakit demam? Apakah ada yang tahu seperti apa bentuk demam itu?
Sederhana tapi cukup untuk menyadarkan saya sebagai pribadi yang pernah bingung karena hal tersebut, sampai sekarang sebenarnya saya masih ragu tentang semua ini. Tapi baru-baru ini saya tersadar, bahwa jika memang saya ingin membuktikan tentang keberadaan Tuhan. Saya pun harus menjadi sosok yang pantas untuk dapat melihatnya. Bagaimana saya akan mampu melihat Tuhan, saya hanya berkubang dalam lumpur kebingungan? Bagaimana saya akan mampu membuktikan tentang keberadaan-Nya jika saya hanya mau melihat dengan mata telanjang saja???
Saya tidak tahu seperti apa itu Tuhan, dan seperti apa wujud-Nya. Tapi sementara ini yang ada dalam pikiran saya, bahwa untuk melihat bintang saja kita masih membutuhkan teleskop super. Maka untuk mengetahui siapa itu Tuhan, maka saya harus menggunakan teleskop yang Mahasuper. Karena jika memang Tuhan yang menciptakan alam semesta dan segala keteraturannya hingga sepersekian milimeter atau detik, jelaslah bahwa ia pasti Maha Besar. Untuk itulah saya masih ingin mengasah diri saya, agar mampu melihat Tuhan. Penelitian sudah membuktikan bahwa dengan akal saja, kita tidak akan pernah mendapatkan jawaban. Maka mengapa kita tidak mencoba mencari cara lain untuk mengujinya?
Dengan apa, yaitu dengan kombinasi ketajaman akal dan hati. Mungkin cara ini yang bisa membuka tabir penghalang antara kita dengan Tuhan. Coba kita telaah dalam kitab yang telah Dia turunkan, dalam hal ini karena penulis muslim. Maka kitab yang dijadikan acuan adalah Al Qur’an dan Al Hadist. Cukup kita cari saja sinkronisasi anatara kitab dengan realita, lalu kita lihat apakah benar terbukti atau tidak???
Tentunya hal ini tidak akan pernah bisa dibuktikan, jika kita hanya berpikir tentang pikiran yang ada dalam diri kita sendiri. Kita harus berpikir diluar itu semua, harus berpikir secara kritis dan tajam dalam menilai sesuatu. Jangan hanya mengikuti doktrin yang telah melekat didiri kita. Jika kita ingin mengetahui kebenaran sejati, maka kita harus terlepas dari itu semua. Memandang sesuatu secara universal bukan secara golongan, karena Tuhan itu jelasnya hanya satu. Karena itu kebenarannya harus dapat bersifat universal dan dapat dibuktikan secara universal.
Tentunya semua yang penulis tulisa diatas adalah sedikit yang bisa diperoleh dari pengalaman penulis sendiri. Penulis juga masih berusaha memperoleh kebenaran, semoga saja apa yang penulis tulis diatas dapat menjadi salah satu cara untuk menemukan Tuhan. Daripada kita tidak berusaha dan hanya berangan-angan, lebih baik kita berusaha dengan apa yang bisa kita lakukan untuk menemukan-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar