Senin, 09 Mei 2011

Nenek Tua di Bis...

Perjalanan saya kali ini membawa saya dalam sebuah bis patas jurusan Probolinggo Malang, bukannya sok nyaman. Tapi saya memang dalam keadaan darurat, mau naik bis biasa, penumpangnya sudah penuh sampai sudah banyak yang berdiri. Mau menunggu bis berikutnya, tapi masih 1 jam lagi baru datang. Di tambah lagi sebelum memasuki terminal Bayuangga, Probolinggo. Bis-bis jurusan Malang sudah dipenuhi oleh penumpang, sehingga calon penumpang yang menunggu di dalam terminal, banyak yang tidak memperoleh kursi. Saya cukup bingung, karena saya harus secepatnya sampai di malang. Akhirnya tidak ada pilihan lain, saya harus naik bis patas yang memang penumpangnya cukup sedikit di bandingkan dengan bis biasa. Mungkin karena perbedaan biaya yang terlampau jauh, sehingga peminat bis patas sangat sedikit.

Inti dari perjalanan saya bukan terletak pada bisnya, tapi pada seorang penumpang yang sangat menarik perhatian saya. Saat bis patas sampai pada sebuah halte dimana banyak orang yang sedang menunggu, ada seorang nenek tua yang dengan kebingungan menaiki bis patas ini dan duduk di kursi bagian belakang sisi yang kanan. Kebetulan saya juga duduk di kursi belakang tapi di sebelah kiri. Saat melihat nenek tersebut, saya sebenarnya agak khawatir nenek itu tidak tahu perbedaan antara bis patas dengan bis biasa. Dan saya juga khawatir kondektur bis memaksa nenek tersebut membayar dengan tarif penuh, padahal nenek tersebut hanya menggenggam uang 3 ribu (Mungkin telah dipersiapkan sebelum naik bis).
Nenek dengan menggunakan baju serta sarung yang sudah lusuh, berjalan menggunakan sandal jepit dengan membawa plastik yang berisi sesuatu. Kulitnya agak terbakar matahari, memperlihatkan perjalanan panjang dan penuh pengorbanan yang telah beliau lakukan di masa tuanya ini. Sungguh bukan merupakan pemandangan yang biasa di dalam bis patas. Kekhawatiran saya pada nenek tersebut meningkat ketika saya teringat dengan kejadian seorang kakek dengan cucu laki-lakinya yang sudah remaja. Mereka di paksa membayar Rp 24.000, untuk perjalanan dari Probolinggo ke Warung Dowo yang biasanya hanya membayar 6-7 ribu rupiah. Sungguh bukan pemandangan yang mengenakkan mata, saat melihat wajah kakeknya yang kebingungan mencari uang dari sela-sela kopiah tuanya.
Rasa khawatir saya sedikit demi sedikit tambah meningkat saat kondektur bis, mulai berjalan dari arah depan menuju ke belakang dengan meminta ongkos bis patas pada setiap masing-masing penumpang. Saat kondektur itu menghampiri saya, kekhwatiran semakin menjadi saja. Saya khawatir nenek tersebut di turunkan di tengah jalan, saya takut nenek tersebut tetap harus di paksa membayar...
Saya berdoa dalam hati semoga masih ada kebaikan di antara orang-orang di sekitar saya. Dan ternyata, kondektur itu setelah meminta pembayaran pada saya, dia langsung duduk persis di sebelah saya. Saya masih bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya, nenek tersebut memerikan uangnya pada kondektur itu, tapi ternyata kondektur tersebut menolaknya dengan halus. Saya mendengar sendiri apa yang di katakan kondektur tersebut ‘tidak usah bu...’,, dengan hati lega saya mengucapkan syukur atas apa yang saya saksikan ini, nenek tersebut berterima kasih kepada kondektur bis. Sungguh banyak sekali momen-momen penting di dalam hidup ini jika kita mau mengamati dan mendengar, sungguh banyak sekali suara-suara meminta tolong jika kita tidak menutup telinga kita dengan headset (hanya mendengarkan lagu dan tidak peduli dengan keadaan orang lain).
Saya sangat senang saat itu, lalu dengan rasa penasaran saya mencoba bertanya kepada kondektur bis tersebut. Karena menurut saya, sangat jarang ada kondektur yang tidak memaksa penumpangnya membayar, apalagi untuk ukuran bis patas yang tarif jalannya 2x lipat dibandingkan dengan tarif bis biasa. Saya bertanya singkat kepada bapak kondektur tersebut, ‘Kenapa tidak diminta bayar pak...?’
Jawaban pak kondektur singkat ‘Kasihan Mas...’....
Mendengar ucapan itu, saya berpikir mengapa begitu sedikitnya orang-orang yang bisa merasa kasihan pada orang tua? Karena jika melihat dan membaca media massa akhir-akhir ini. Banyak sekali kasus anak membunuh ayah atau bahkan ibu kandungnya, cucu yang membunuh neneknya, anak memukuli dan menganiaya ibunya hingga sekarat, bahkan sampai pada anak menelantarkan orang tuanya yang sudah tidak berdaya ke panti jompo. Melihat kenyataan ini, saya menjadi tidak habis pikir. Bagaimana seseorang bisa memperlakukan orang tua layaknya mainan yang bisa dibanting, dirusak bahkan dihancurkan..
Sahabat pembaca sekalian, siapapun anda dan bagaimanapun posisi anda. Tetaplah menjadi seseorang yang  mau melindungi orang yang lebih tua. Karena bagaimanapun anda harus ingat, dari semenjak anda masih dalam bentuk janin sampai anda mampu untuk mencari nafkah sendiri. Anda selalu dilindungi oleh orang tua anda, sehingga anda masih bisa mengirup udara pagi yang segar, anda masih bisa merasakan anggota tubuh yang lengkap dan sempurna karena gizi yang selalu diberikan oleh ibu anda masing-masing saat sedang hamil..
Sahabat, perlakukanlah orang tua siapapun itu dengan sebaik mungkin. Agar kelak jika anda sudah berkeluarga dan memiliki anak atau bahkan sudah memiliki cucu. Anda juga akan diperlakukan dengan baik oleh mereka. Dan satu hal lagi dari saya untuk penutup, cintai dan sayangilah orang-orang yang mencintai dan menyayangi anda dengan sepenuh hati, karena jika anda menyia-nyiakan cinta dari mereka, maka anda tidak akan pernah menemukan lagi orang yang sama dengan cinta yang sama kepada diri anda...Terima kasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar